Panas terik matahari membakar kulitku yang memang sudah kering dan kusam. Aku melangkah sempoyongan tak tentu arah. Menyesali semua jalan yang pernah ku pilih. Aku merasa lelah padahal belum berjuang.
Beginikah pilunya jadi pengangguran bergelar sarjana?
Setiap hari sesak dadanya, setiap hari dirudung pikiran sendiri yang berkecamuk tak berkesudahan.
Merasa kendali hidup dipegang semata. Lupa atas kuasa Tuhan dan do'a orang tua. Meratapi yang sebenarnya tidak ada. Pikiran masa depan, penyeselan masa lalu, ketakutan masa sekarang yang tak berkesudahan menghujat kepercayaan diri dan mental.
Semakin hari semakin tak kuasa menahan gejolak nurani sendirian. Airmata berjatuhan namun tak satupun yang mampu mengusap. Kadang, merasa bahagia sesederhana minum kopi susu dingin. Setelah kopi habis ditenggak, perasaan kembali mengamuk sampai larut malam dan tertidur.
Besoknya badan sakit-sakitan, bukan karena kelelahan. Tapi, karna semangat yang telah padam. Tidak ada awal dan akhir hari. Semua detik sama, menjelma menjadi pedang yang tak punya lawan. Siap menerkam, menyayat-nyayat surat penantian.
Lalu, kemana aku bisa pergi?
Hanya sujudku yang maraup airmata. Sajadah basah sudah biasa. Saksi bisu do'a yang tak kunjung menyapa.
Komentar
Posting Komentar