Langsung ke konten utama

Hadiah Terindah Menjelang Anniversary 1 Tahun Pernikahan Baba & Umma

 


Anakku sayang, ini part 2 ya. Kamu harus baca part 1 dulu cerita umma.

Kamu adalah hadiah terindah dari Allah SWT yang hadir dalam hidup baba dan umma menjelang anniversary 1 tahun pernikahan baba dan umma di tanggal 9 Juni 2024 lalu. Umma sangat bersyukur atas kehadiranmu. Umma senang sekali kamu telah lahir, umma jadi punya teman di rumah. Soalnya baba sibuk sekali, banyak sekali pekerjaannya, umma jadi sering sendirian di rumah.

Part 2 Saat Melahirkan 

Dalam menghadapi kelahiranmu, umma tidak hanya berbekal do'a. Umma dan Baba ikut kelas Online "Melahirkan dengan Nyaman". Umma juga membaca buku kehamilan yang isinya tentang masalah-masalah yang dihadapi para ibu saat masa hamil hingga melahirkan. Diantaranya ada kisah ibu yang hampir meninggal, juga ada kisah sang buah hati yang tidak dapat diselamatkan. Kisah-kisah pilu itu diantaranya akibat kurangnya ilmu. Maka untuk Alvaro, banyaklah belajar dari beragam sumber, semakin banyak ilmu tentu semakin jauh dari kebodohan ya, nak.

Buku : Rekomendasi Buku, kisah perjuangan para ibu dan calon ibu

Umma sangat senang sekali bahwa hari perkiraan lahir Alvaro adalah tanggal yang sangat cantik, 25-05-2025. Saat kandungan memasuki semester 9, umma sangat rajin olahraga jalan dan yoga. Setiap pagi umma lakukan selama 1 jam. Pokoknya setiap aktivitas umma pasti menggerakkan tubuh umma seperti gerakan yoga. Umma berharap bisa melahirkan normal dengan mudah.

"Yaa Allah, izinkan hamba lahiran normal 30 menit sudah keluar anaknya ya Allah. Eh, lama kali ya kesakitan pasti aku selama setengah jam. Yaa Allah 15 menit saja ya Allah. Eh, masih kelamaan deh kayaknya. Yaa Allah 5 menit saja yaa Allah. Mudahkanlah persalinanku." Begitulah do'a umma setiap olahraga pagi.

Kadang kala umma sambil bercerita dengan Alvaro. Cerita tentang sekolah umma, tentang baba, dan tentang masa depan Alvaro. Kata dokter, Alvaro sudah bisa dengar umma kok. Jadi umma kan gak seperti orang yang ngomong sendiri ya, hehe.

"Nakku sayang, nanti keluarnya tanggal 25 bulan 5 ya nak. Jangan sampai kecepatan dan kelewatan. Oke! Ingat tanggalnya ya nak. Pasang alarm biar gak lupa, ya!" Begitulah kalimat yang setiap saat umma ucapkan. Berharap besar kamu lahir ditanggal cantik itu. Padahal itu hanya tanggal, tidak ada artinya juga.

Detik-detik hari perkiraan lahir pun tiba. Tanggal 21 bulan Mei 2025, kamu tepat berusia 39 Minggu dalam kandungan umma. Sesuai saran dokter obgyn umma di Medan, umma harus USG di rumah sakit dimana kamu akan dilahirkan.

Bersama pasukan grup keluarga bahagia dan didampingi buk Lana, umma melakukan USG di RSU Elpi Al Aziz, Rantau Prapat. Namun, tidak seperti USG sebelum-sebelumnya yang mengatakan kandungan umma baik-baik saja.

"Loh, ini posisinya nyerong adeknya ni. HPL tanggal 25 ya. Tapi air ketuban sudah keruh dan berat badan bayinya sudah 3,5 Kg. Badan ibunya kecil ini, pinggulnya kecil juga. Saya ragu nanti bisa jadi 2 kali sakit kalo nunggu HPL. Di operasi hari ini saja mau? Tapi harus didampingi suami, karna ada yang perlu ditandatangani." Jelas sang dokter obgyn.

Umma terkejut, sama seperti buk Lana, mamatu dan nenek yang ikut mendampingi umma. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan operasi caesar besok hari, menunggu kedatangan baba.

Besoknya umma datang lagi, kebetulan hari ini jadwal operasi dokter Maya, yang saat ini sekaligus menjabat sebagai Bupati Labuhan Batu. Wah, sebuah kebanggaan tersendiri bagi umma karna akan dibantu melahirkan oleh orang nomor 1 di Kabupaten Labuhan Batu.

Setiba di ruangan administrasi. Ternyata dokter Maya berhalangan, karna sedang dalam perjalan. Operasi akan digantikan dengan dokter Erwin. Baba ragu dan tidak menyetujui itu. Akhirnya kami menunggu jadwal dokter Maya berikutnya yaitu dihari besok.

Kami pun memesan kamar kelas 1 utama agar keluarga yang merawat umma merasa nyaman. Alhamdulillah, semua administrasi dimudahkan berkat bantuan buk Lana. Sore itu saat keluarga sudah pulang, umma hanya ditemani baba.

Tergambar pemandangan yang indah dari balkon, sebuah lukisan nyata bukit barisan. Langit yang biru berpadu dengan mentari yang hangat. Tapi, indahnya pemandangan di mata tidak pula mampu menyamankan perasaan umma.


Umma takut karna ini pertama kali umma akan dioperasi. Tapi, umma juga bahagia karna umma segera melihat wajahmu. Sulit menggambarkan perasaan umma saat itu. Umma hanya berdoa saja. Untunglah baba senantiasa menyemangati dan menghibur umma.

Pagi harinya, umma sudah mulai puasa pada jam 9 pagi. Jadwal operasi akan dilaksanakan sekitar jam 3 sore. Keluarga umma pun sudah hadir. Namun, buk Lana datang dan menyampaikan kalau dokter Maya sedang melaksanakan pesta ulang tahunnya di kantor bupati. Jadwal operasi pun ditunda ke jam 5 sore. Jadi, sembari menunggu dokter, kami merayakan ulang tahun buk Lana dulu di siang harinya. Wah, Alvaro akan kembaran hari lahirnya dengan buk Lana dan dokter Maya. Sebuah kebetulan yang unik ya nak. Umma berharap kamu akan jadi orang hebat juga di masa depan. Aamiin.

Sorenya, umma bersiap-siap akan dipindahkan ke ruangan operasi. Menjelang Maghrib, umma pun sudah tiba di ruangan dan sudah disiapkan untuk segera di operasi. 

Persiapan Operasi Caesar 

"Hallo, buk Anggi. Keluarganya Lana ya? siap-siap ya, karna akan saya suntik bius." Kata dokter anestesi tersebut.

"Dokter, gimana supaya saat disuntik, saya gak kesakitan?" Tanya umma pada dokter itu.

"Oke, akan saya bantu. Sekarang ibu rileks ya. Nah, bahunya masih tegang. Lebih rileks lagi. Tarik napas yang dalam ya!" Tuntun dokter tersebut.

Umma mengikuti arahan dokter dan Alhamdulillah sedikit pun suntikannya tidak terasa. Tiba-tiba sudah selesai saja dokternya menyuntik. Umma sangat bersyukur. Sebab pengalaman kakek, ia disuntik berulang saat suntik bius pertama gagal. Kakek sangat kesakitan katanya, sehingga suntikannya gagal dan harus diulang. Saat itu kakek akan operasi ambeyen.

Beberapa menit setelah disuntik bius, setengah badan umma bagian perut kebawah merasakan kebas dan berakhir mati rasa. Dokter Maya pun masuk ke ruangan operasi.

"Hallo Bu Anggi, sudah siap di operasi?" Sapa dokter Maya dengan senyuman lembut.

"Insyaallah siap, dokter." Jawab umma singkat dan semangat.

"Tahi lalatnya mau di operasi juga?" Canda dokter Maya yang salah fokus melihat tahi lalat di kening umma.

Umma hanya tertawa kecil saja. Suasana operasi pun santai, jadi umma merasa tenang walau sedikit kedinginan.

"Sreet sreet sreet" lihai sekali tangan dokter membelah perut umma. Lapisan demi lapisan digores pisau khusus. 1 menit berlalu, menit kedua suara tangisan Alvaro menggelegar di seantero ruangan operasi. Umma terharu, hanya 2 menit kamu sudah dilahirkan dari perut umma. Ini bahkan lebih cepat dari doa umma tempo lalu. Allah mengabulkan tapi ya caranya dengan operasi, bukan lahiran normal. Hehee

Perut umma masih dalam proses penjahitan saat kamu didekapkan ke umma. Kamu bersih dan merah kulitnya. Alhamdulillah, umma sangat bersyukur atas kesehatanmu.

Alvaro saat baru dilahirkan, Alhamdulillah bersih dan merah kulitnya.

Setelah bertemu umma, kamu dipertemukan dengan baba untuk di adzankan. Perasaan haru dan bahagia memenuhi dada baba. Mungkin saja baba sudah berlinang air matanya saat pertama kali melihatmu.

Alvaro Sedang Mendengarkan Adzan Baba

Setelah di adzankan, Alvaro di bawa oleh perawat ke ruangan khusus bayi dan umma dikembalikan ke kamar umma. Buk Lana mendorong kasur umma, dan saat pertama kali umma melihat nenek dan baba. Nenek langsung menangis, memeluk dan mencium umma. Umma pun tak bisa membendung air mata lagi. Demikian juga baba.

"Terimakasih ya sayangkuu." Ucap baba sambil menumpahkan air matanya.

"Iyaa, sayang." Jawab umma singkat.

"Tadi, sakit pas di operasi?" Tanya baba penasaran.

"Alhamdulillah gak sakit, kan di bius. Pas disuntik biusnya juga gak terasa." Jawab umma sumringah.

Setelah sampai di kamar, umma merasakan kedinginan yang hebat hingga tak terkendali. Badan umma gemetaran, bibir bergetar dan giginya pun beradu bergemeletuk. Tiba-tiba Umma muntah tanpa aba-aba perut mual. Muntah-muntah beberapa kali.

Umma mencari-cari tangan yang hangat. Tangan nenek kurang hangat, tangan baba hangat tapi masih kurang. Akhirnya baba menggenggam erat tangan kiri umma dan buk Dia (adik kandung umma) di tangan kanan umma. Barulah umma sedikit tenang, walau badan masih belum bisa berhenti gemetarnya.

Setengah jam kemudian, gemetaran itu pelan-pelan mulai mereda. Umma pun melepaskan tangan mereka. Perut umma mulai terasa nyeri di bekas operasi. Nyeri yang panjang dan tak berkesudahan.

Umma sangat ngantuk dan lapar, sudah 12 jam umma berpuasa. Perut umma rasanya lapar sekali. Tapi, perawat selalu datang dan mengingatkan untuk jangan tidur dan makan dulu sampai rasa kebasnya hilang. Baba menyetel tv supaya umma tetap sadar, siaran kulineran menjadi pilihan baba. Umma jadi tambah lapar melihatnya.  Bagaimana sih ini baba, kan umma lagi puasa, malah ditontonkan makanan. Karna umma protes, baba mengganti siaran ke film kartun "boboboy". Yasudah tidak apa-apa, padahal pun umma tidak bisa fokus nonton tv karna rasa kebas yang mulai hilang ini rasanya tidak nyaman sekali. Sakit, nyeri, kebas, kesemutan, dada kadang sesak, kadang gatal, kadang ingin batuk. Umma pun bingung menjelaskan rasanya, pokoknya sangat tidak nyaman dan itu beberapa jam umma rasakan.

Bukannya nonton TV, umma justru menghayal. "Yaa Rabb, sesakit ini melahirkan. Kenapa banyak perempuan yang rela melahirkan lebih dari sekali? Rasanya kondisi melahirkan caesar tanpa merasakan mulas lebih dulu adalah kondisi melahirkan yang paling nyaman dan tidak sakit. Tapi, ini pun aku mengeluh yaa Allah. Sakit yaa Allah. Kenapa diluar sana masih ada yang membandingkan lahiran normal dan caesar? Padahal keduanya sama-sama sakit juga. Yaa Rabb, ini sudah hampir 17 jam aku berpuasa, tapi rasa kebasnya belum juga hilang. Kakiku belum terasa apapun saat di sentuh dan di pijit. Aku lapar dan ngantuk sekali yaa Allah." Demikianlah curhatan umma sambil bermenung-menung.

Masalah TV tadi, dia tetap hidup tapi sepertinya cuma ngerame-ngeramein kamar saja supaya tidak hening. Aslinya sih sama sekali gak  membantu menghempaskan ngantuk umma. Jadi, baba dan buk Dia, bergantian mendengarkan umma bercerita. Kalau salah satunya sudah ngantuk dan bosen, mereka tidur dan gantian. Begitu terus sampai akhirnya keduanya menyerah.

"Apa ya cerita yang belum umma ceritakan ke baba?" Tanya umma pada baba.

"Kayaknya udah cerita semuanya, udah pun ada yang diulang berkali-kali." Jawab baba bercanda dengan senyum mengejek.

"Ooh, cerita dulu pas di Raudhah aja ya baba." Kata umma.

"Kan udah pernah, cerita RDP, terus perpustakaan atau tentang para bebek?" Jawab baba lagi.

"Ooh, cerita umma pernah ditabok guru akuntansi belum kayaknya." Sambung umma lagi.

"Ooh, itu yang gara-gara umma lari dari kelas karna ketakutan dipukul pake rol besi kan?" Tambah baba, sudah hafal. Barangkali umma sudah sekian kali mengulang ceritanya.

Akhirnya lagi-lagi umma bercerita tentang masa kuliah yang aslinya sudah umma ceritakan ke baba. Tapi, baba tetap mendengarkan dan menatap mata umma supaya tidak tidur. Tapi, umma lebih suka bercerita dengan buk Dia. Soalnya setiap cerita ada responnya.

Sembari bercerita, umma diteteskan air zam-zam yang diberikan oleh temannya nenek yang pulang umroh. Setetes demi setetes untuk sekedar membasahi bibir dan tenggorokan. Sampai hampir 20 jam umma berpuasa, akhirnya umma putuskan untuk makan sekeping roti dan sedikit air. Setiap 2 jam sekali, perawat memberikan obat ke selang infus umma. Perawat itu membolehkan makan dan minum sedikit demi sedikit. Setelah rasa lapar sedikit hilang, umma pun tertidur.

Paginya, perawat dan dokter melakukan kunjungan dan mengedukasi agar umma belajar bergerak ke kanan kiri dan belajar jalan. Umma lakukan sesuai arahan dokter, dibantu semua yang ada di kamar. Alhamdulillah, walau sakitnya luar biasa umma mulai bisa bergerak lagi. Rasa sakit sampai umma susah bernapas, nyeri yang hebat. Tapi, umma bersyukur karna banyak yang membantu umma saat itu.

Hari kedua operasi, rasa sakitnya masih sama. Namun umma sudah bisa berjalan. Bangkit dari tidur masih dibantu, pokoknya semua gerakan harus dibantu baba. Hari ketiga, Alhamdulillah makin membaik. Umma sudah bisa berjalan sendiri tanpa di bopong baba lagi. Di hari itu umma sudah boleh pulang. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba juga, yaitu melihat Alvaro lagi. Maasyaa Allah luar biasa senangnya.

Nenek menggendong Alvaro dengan hati-hati. Kita pulang menuju rumah nenek di Pangkatan 10 (Desa Kampung Padang). Disinilah awal dari perjuangan hidup kita ya, nak. Semoga kita mampu melewati ujian hidup dan kembali kepada Allah dengan Ridho-Nya dan bergelimang bekal pahala sehingga kita bisa berkumpul kembali di surga-Nya. Aamiin.

Nenek, Alvaro dan baba di Rumah Sakit Umum Elpi Al Aziz

Alvaro tidak ada hutang ke baba dan umma ya, nak. Namun, dari perjuangan baba dan umma, kami berharap Alvaro tumbuh menjadi anak yang soleh, sehat, cerdas dan kuat. Alvaro Kaisar Idris akan menjadi pemimpin, maka jadilah pemimpin yang bijak, cerdas, amanah dan berilmu banyak seperti Nabi Idris. Jangan lupa untuk senantiasa menaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya ya, nak.

Genap 7 hari usia Alvaro. Kita melaksanakan Tasyakuran Aqiqah atas hadirnya Alvaro. Semoga aqiqah ini diterima Allah SWT dan menjadi berkah untuk kita semua, khususnya untuk Alvaro. Aamiin aamiin yaa Rabbal Aalamiin.



We love you, anakku sayang ❤️.

Untuk pembaca, mau tidak ya aku bercerita tentang bagaimana baba dan umma bertemu dan merancang pernikahan? Boleh tambahkan komentar yaa..🥰


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kesayangan Baba & Umma

Hai Alvaro Kaisar Idris, disini umma akan ceritakan perjuangan umma saat masa hamil dan melahirkanmu ya nak. Agar kamu tau dan mampu menghargai setiap perempuan. Part 1 Masa Kehamilan  Dimulai dari rasa bahagia yang bercampur aduk dengan gelisah, takut dan tidak siap. Umma melihat garis dua di alat tes kehamilan yang baru saja umma beli. Awalnya ragu dengan hasil yang terlihat, karna samar samar. Umma coba sekali lagi dan hasilnya sama. Dengan perasaan terharu yang bercampur gelisah, umma menyampaikan pada baba bahwa umma hamil. Saat itu sejujurnya umma belum siap, karna banyak hal. Tapi tentu banyak tangan yang berdoa untuk kehadiranmu sayang. Bukan, bukan umma tidak mengharapkanmu. Umma takut ini bukan waktu yang tepat. Umma takut tidak amanah, sebab umma belum banyak belajar. Seharusnya umma belajar dan siapkan mental dulu kan nak. Supaya kamu tumbuh lebih beruntung dari baba dan umma. Sejak kami tau kehadiranmu. Umma memutuskan untuk mengurangi aktivitas umma, tentunya juga pad...

Sajadah Basah

Panas terik matahari membakar kulitku yang memang sudah kering dan kusam. Aku melangkah sempoyongan tak tentu arah. Menyesali semua jalan yang pernah ku pilih. Aku merasa lelah padahal belum berjuang. Beginikah pilunya jadi pengangguran bergelar sarjana? Setiap hari sesak dadanya, setiap hari dirudung pikiran sendiri yang berkecamuk tak berkesudahan. Merasa kendali hidup dipegang semata. Lupa atas kuasa Tuhan dan do'a orang tua. Meratapi yang sebenarnya tidak ada. Pikiran masa depan, penyeselan masa lalu, ketakutan masa sekarang yang tak berkesudahan menghujat kepercayaan diri dan mental. Semakin hari semakin tak kuasa menahan gejolak nurani sendirian. Airmata berjatuhan namun tak satupun yang mampu mengusap. Kadang, merasa bahagia sesederhana minum kopi susu dingin. Setelah kopi habis ditenggak, perasaan kembali mengamuk sampai larut malam dan tertidur. Besoknya badan sakit-sakitan, bukan karena kelelahan. Tapi, karna semangat yang telah padam. Tidak ada awal dan akhir hari. Semua...