Tiada
hentinya rasa syukur ini aku haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat-Nya
yang tak habis-habisnya dilimpahkan. Keindahan alam adalah salah satu bukti
nyata kekuasaan-Nya. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati
keindahan alam-Nya pada masa libur kuliahku. Tepat sekali untuk men-charge ulang otakku yang jenuh dengan berangkat
bersama keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak menuju Kota
Tebing tinggi, Medan, Sumatera Utara. Tujuan kami ialah Wisata Ancol Arung
Jeram. Ngarung merupakan perjalanan mengarungi sungai dengan menggunakan perahu
karet.
Kami
meninggalkan rumah saat matahari baru bangun, sekitar 30 menit setelah adzan
subuh berkumandang. Pagi itu udara masih dingin, jalanan pun masih gelap dengan
berselimut kabut. Tapi semangat kami tak segelap jalanan itu dan tak pula
sedingin udara yang berhembus. Itu karena sebelum berangkat, kami sadar betul
bahwa liburan kali ini akan menjadi pengalaman paling meneganggkan sepanjang
tahun. Kami berangkat mengendarai mobil bermerk kijang inova yang meski sudah
berumur, mobil ini masih terlihat elegan dengan warna hitamnya yang bling-bling. Kali ini ayah sebagai
supirnya.
Pukul
05.40 wib mobil kami pun melesat menerobos selimut kabut sumatera.
Semburat-semburat cahaya matahari seakan berlomba-lomba muncul mendahului sang
surya. Menambah euforia perjalanan kami yang diiringi kemerduan shalawat dari
Sabyan. Di luar kaca mobil, pohon karet berbaris rapi di pinggir jalanan, ikut
serta pula pohon sawit yang tak mau kalah. Sepanjang jalan, jika jalanan
menanjak maka alam akan menghadirkan lukisan perbukitan sawit dan karet, dimana
antara pohon satu dengan pohon yang lainnya seakan memiliki jarak yang sama,
rapih seperti barisan tentara sedang upacara.
Perjalanan
kami memakan waktu sepuluh jam sampai ke lokasi tujuan. Jika dituliskan, maka
pembaca akan mengira kami layak untuk mengatakan lelah. Namun, nyatanya tidak.
Perjalanan yang seakan cukup jauh tersebut tentunya sudah terselip berjam-jam
waktu untuk beristirahat, makan, sholat zuhur dan bersyukur yang sangat banyak.
Kami tiba dengan disambut adzan asar, toa masjid kota itu seakan mengucap salam
selamat datang kepada kami. Ah, sangat romantis ternyata.
Setelah
sholat asar, kami tidak langsung menuntaskan rencana kami tersebut. Meski sudah
tidak sabar, rencana tersebut akan kami simpan sampai besok. Kami menemukan
penginapan murah dan nyaman tidak jauh dari lokasi seharga Rp. 100.000/kamar.
Kami memesan dua kamar untuk satu malam.
Panggilan
adzan sudah sedari tadi berkumandang, namun matahari masih enggan menampakkan
cahayanya. Diluar masih gelap, tapi kami tidak peduli. Setelah melapor kepada
resepsionis penginapan, kami check out dan langssung menjurus ke lokasi arung
jeram. Perjalanan tidak terlalu jauh, sehingga kami tiba ketika matahari masih
dingin. Setibanya ditempat, alam indah menyambut kami, sungai berair jernih bak
kaca menyapa kami, aku rasa aliran airnya mengucap salam pada kami, tak mau
ketinggalan sang angin yang sejuk pun ikut memusnahkan rasa takut yang dibuat
oleh kabar-kabar buruk yang kami dengar. Tak menunggu lama, kami langsung
bergegas mempersiapkan peralatan perjalanan seperti pelampung, dayung, helm
arung, bekal makanan dan minuman, serta perahu karet.
Kami
berangkat ngarung pukul 11.00 Wib.
Kami berangkat dengan diiringi dua pengawal wanita ahli arung yang disediakan
oleh perusahaan. Kami mengetahuinya karna salah satu dari mereka adalah teman
dekat kakakku, ia dan rekannya juga bercerita pernah beberapa kali ikut
perlombaan arung jeram diluar negri dengan membawa nama Indonesia. Cerita itu
menambah berani nyaliku.
Kami menikmati keindahan tebing-tebing yang dibuat
Tuhan Yang Maha Esa dengan sangat rapi dan kokoh. Tak habis-habisnya kami
memuji Sang Pencipta dengan rasa syukur yang amat besar. Jelang beberapa jauh
kami mendayung, aliran sungai terdengar semakin deras, setelah kami melewati
tikungan kami tersadar dan takjub dengan apa yang telah alam sediakan. Suara
aliran deras tersebut ternyata berasal dari sebuah air terjun setinggi sepuluh
meter. Aliran air tersebut tumpah ruah dari tebing dan sela-selanya meninju apa
saja yang menghalangi alirannya, tak terkecuali kepalaku ketika aku berusaha
mendekatinya. Walau tidak ramah, air terjun ini tetap indah dipandang, hingga
tak terasa puluhan foto telah kami muat dalam kamera.
Setelah
merasa puas, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini rintangan yang sesungguhnya
telah menanti kami, bebatuan dan aliran sungai yang jeram menantang kami di
ujung sana. Tak mau kalah, kami pun juga bersiap-siap. “Satu, dua, tiga,”
teriak sang pengawal, kompak, sejenak semangat kami membara sampai kami
berputar-putar diatas perahu karet akibat menabrak batu dan salah dalam tehnik
mendayung. Tapi, bukannya kapok, kami justru tertawa merayakan keseruan yang
dibuat tidak sengaja itu. Namun, tampaknya kami sedang menertawai kebodohan
kami sendiri.
Alam
masih tampak bersahabat, pepohonan menghibur kami dengan tariannya yang
diiringi musik dari semilir angin dan sahutan puluhan jangrik. Monyet-monyet
kecil dan besar berloncatan dari pohon satu ke pohon lainnya memperlihatkan
bakat yang dibawanya sejak lahir itu. Semakin jauh kami mendayung semakin
banyak rintangan yang kami temui. Diantaranya sampai membuat kami terjebak dan
berhenti diantara batu-batu yang mengganjal perahu. Yang lainnya membuat perahu
kami hampir terbalik. Oh, kenapa kami baru sadar satu diantara anggota arung
kami memiliki berat badan lebih dari 80 kilogram. Belakangan kami sadar mengapa
perahu terasa sangat berat hingga terjebak dibebatuan.
Terasa
sekali sulitnya perjalanan air ini, adrenalin kami benar-benar tertantang. Tiga
jam kemudian kami singgah dipinggiran sungai, kami kelelahan dan kehabisan tenaga.
Kami beristirahat sangat lama, tapi istirahat kami jadi terganggu ketika
pengawal arung menjawab pertanyaan bahwa kami baru sampai setengah perjalanan.
Seketika kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, teringat bahwa tidak ada
musholah yang akan kami lewati nanti dan jadwal sholat yang telah mepet, kami
melanjutkan perjalanan dan berusaha ngebut, walau sebenarnya dua pengawal
dibelakang jelas lebih semangat mengerahkan semua tenaga yang tersisa. Satu,
dua, tiga jam selanjutnya kami lewati dengan penuh takjub dan doa yang
dipanjatkan.
Lebih parah dari sebelumnya, rintang semakin kacau, memacu kekompakan
dan semangat kami sampai diakhir perjalanan. Ucapan syukur terlontar spontan
saat kami berhasil melewati aliran jeram yang terakhir dan yang paling tinggi.
Gelak tawa mengiringi, aku rasa ini gelak tawa karna akhirnya kami bisa
mengendalikan dayung sehingga perahu karet tidak berputar-putar membuat pusing
penumpang. Tapi, tawa itu berhenti ketika aku turun dari perahu dan memuntahkan
apa saja yang ada diperutku. Sungguh, perjalanan yang sangat memuaskan. Tak
sia-sia kami membeli tiket perjalanan seharga Rp 200.000 perkepala.
Berjam-jam
diatas air memberikan banyak pelajaran untuk kami, berjam-jam mendayung membuat
kami mendapatkan teknik mendayung cepat dan bagaimana mengendalikan perahu karet
agar dapat berbelak-belok menuruti keinginan kami dan melawan arus. Juga
mengetahui bahwa air-air yang mengalir keluar dari sela-sela tebing adalah
halal. Sungguh perjalanan yang akan menjadi perjalanan paling menakjubkan di
tahun ini. Tahun 2018.
Komentar
Posting Komentar