Langsung ke konten utama

Ancol Arung Jeram, Pacu Adrenalimu



Oleh : Anggi Putri Rizkya

Tiada hentinya rasa syukur ini aku haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat-Nya yang tak habis-habisnya dilimpahkan. Keindahan alam adalah salah satu bukti nyata kekuasaan-Nya. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menikmati keindahan alam-Nya pada masa libur kuliahku. Tepat sekali untuk men-charge ulang otakku yang jenuh dengan berangkat bersama keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan empat orang anak menuju Kota Tebing tinggi, Medan, Sumatera Utara. Tujuan kami ialah Wisata Ancol Arung Jeram. Ngarung merupakan perjalanan mengarungi sungai dengan menggunakan perahu karet.
 
Kami meninggalkan rumah saat matahari baru bangun, sekitar 30 menit setelah adzan subuh berkumandang. Pagi itu udara masih dingin, jalanan pun masih gelap dengan berselimut kabut. Tapi semangat kami tak segelap jalanan itu dan tak pula sedingin udara yang berhembus. Itu karena sebelum berangkat, kami sadar betul bahwa liburan kali ini akan menjadi pengalaman paling meneganggkan sepanjang tahun. Kami berangkat mengendarai mobil bermerk kijang inova yang meski sudah berumur, mobil ini masih terlihat elegan dengan warna hitamnya yang bling-bling. Kali ini ayah sebagai supirnya.

Pukul 05.40 wib mobil kami pun melesat menerobos selimut kabut sumatera. Semburat-semburat cahaya matahari seakan berlomba-lomba muncul mendahului sang surya. Menambah euforia perjalanan kami yang diiringi kemerduan shalawat dari Sabyan. Di luar kaca mobil, pohon karet berbaris rapi di pinggir jalanan, ikut serta pula pohon sawit yang tak mau kalah. Sepanjang jalan, jika jalanan menanjak maka alam akan menghadirkan lukisan perbukitan sawit dan karet, dimana antara pohon satu dengan pohon yang lainnya seakan memiliki jarak yang sama, rapih seperti barisan tentara sedang upacara.

Perjalanan kami memakan waktu sepuluh jam sampai ke lokasi tujuan. Jika dituliskan, maka pembaca akan mengira kami layak untuk mengatakan lelah. Namun, nyatanya tidak. Perjalanan yang seakan cukup jauh tersebut tentunya sudah terselip berjam-jam waktu untuk beristirahat, makan, sholat zuhur dan bersyukur yang sangat banyak. Kami tiba dengan disambut adzan asar, toa masjid kota itu seakan mengucap salam selamat datang kepada kami. Ah, sangat romantis ternyata.
Setelah sholat asar, kami tidak langsung menuntaskan rencana kami tersebut. Meski sudah tidak sabar, rencana tersebut akan kami simpan sampai besok. Kami menemukan penginapan murah dan nyaman tidak jauh dari lokasi seharga Rp. 100.000/kamar. Kami memesan dua kamar untuk satu malam.

Panggilan adzan sudah sedari tadi berkumandang, namun matahari masih enggan menampakkan cahayanya. Diluar masih gelap, tapi kami tidak peduli. Setelah melapor kepada resepsionis penginapan, kami check out dan langssung menjurus ke lokasi arung jeram. Perjalanan tidak terlalu jauh, sehingga kami tiba ketika matahari masih dingin. Setibanya ditempat, alam indah menyambut kami, sungai berair jernih bak kaca menyapa kami, aku rasa aliran airnya mengucap salam pada kami, tak mau ketinggalan sang angin yang sejuk pun ikut memusnahkan rasa takut yang dibuat oleh kabar-kabar buruk yang kami dengar. Tak menunggu lama, kami langsung bergegas mempersiapkan peralatan perjalanan seperti pelampung, dayung, helm arung, bekal makanan dan minuman, serta perahu karet.

Kami berangkat ngarung pukul 11.00 Wib. Kami berangkat dengan diiringi dua pengawal wanita ahli arung yang disediakan oleh perusahaan. Kami mengetahuinya karna salah satu dari mereka adalah teman dekat kakakku, ia dan rekannya juga bercerita pernah beberapa kali ikut perlombaan arung jeram diluar negri dengan membawa nama Indonesia. Cerita itu menambah berani nyaliku. 

Kami menikmati keindahan tebing-tebing yang dibuat Tuhan Yang Maha Esa dengan sangat rapi dan kokoh. Tak habis-habisnya kami memuji Sang Pencipta dengan rasa syukur yang amat besar. Jelang beberapa jauh kami mendayung, aliran sungai terdengar semakin deras, setelah kami melewati tikungan kami tersadar dan takjub dengan apa yang telah alam sediakan. Suara aliran deras tersebut ternyata berasal dari sebuah air terjun setinggi sepuluh meter. Aliran air tersebut tumpah ruah dari tebing dan sela-selanya meninju apa saja yang menghalangi alirannya, tak terkecuali kepalaku ketika aku berusaha mendekatinya. Walau tidak ramah, air terjun ini tetap indah dipandang, hingga tak terasa puluhan foto telah kami muat dalam kamera.

Setelah merasa puas, kami melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini rintangan yang sesungguhnya telah menanti kami, bebatuan dan aliran sungai yang jeram menantang kami di ujung sana. Tak mau kalah, kami pun juga bersiap-siap. “Satu, dua, tiga,” teriak sang pengawal, kompak, sejenak semangat kami membara sampai kami berputar-putar diatas perahu karet akibat menabrak batu dan salah dalam tehnik mendayung. Tapi, bukannya kapok, kami justru tertawa merayakan keseruan yang dibuat tidak sengaja itu. Namun, tampaknya kami sedang menertawai kebodohan kami sendiri.

Alam masih tampak bersahabat, pepohonan menghibur kami dengan tariannya yang diiringi musik dari semilir angin dan sahutan puluhan jangrik. Monyet-monyet kecil dan besar berloncatan dari pohon satu ke pohon lainnya memperlihatkan bakat yang dibawanya sejak lahir itu. Semakin jauh kami mendayung semakin banyak rintangan yang kami temui. Diantaranya sampai membuat kami terjebak dan berhenti diantara batu-batu yang mengganjal perahu. Yang lainnya membuat perahu kami hampir terbalik. Oh, kenapa kami baru sadar satu diantara anggota arung kami memiliki berat badan lebih dari 80 kilogram. Belakangan kami sadar mengapa perahu terasa sangat berat hingga terjebak dibebatuan.

Terasa sekali sulitnya perjalanan air ini, adrenalin kami benar-benar tertantang. Tiga jam kemudian kami singgah dipinggiran sungai, kami kelelahan dan kehabisan tenaga. Kami beristirahat sangat lama, tapi istirahat kami jadi terganggu ketika pengawal arung menjawab pertanyaan bahwa kami baru sampai setengah perjalanan. Seketika kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, teringat bahwa tidak ada musholah yang akan kami lewati nanti dan jadwal sholat yang telah mepet, kami melanjutkan perjalanan dan berusaha ngebut, walau sebenarnya dua pengawal dibelakang jelas lebih semangat mengerahkan semua tenaga yang tersisa. Satu, dua, tiga jam selanjutnya kami lewati dengan penuh takjub dan doa yang dipanjatkan.

Lebih parah dari sebelumnya, rintang semakin kacau, memacu kekompakan dan semangat kami sampai diakhir perjalanan. Ucapan syukur terlontar spontan saat kami berhasil melewati aliran jeram yang terakhir dan yang paling tinggi. Gelak tawa mengiringi, aku rasa ini gelak tawa karna akhirnya kami bisa mengendalikan dayung sehingga perahu karet tidak berputar-putar membuat pusing penumpang. Tapi, tawa itu berhenti ketika aku turun dari perahu dan memuntahkan apa saja yang ada diperutku. Sungguh, perjalanan yang sangat memuaskan. Tak sia-sia kami membeli tiket perjalanan seharga Rp 200.000 perkepala. 

Berjam-jam diatas air memberikan banyak pelajaran untuk kami, berjam-jam mendayung membuat kami mendapatkan teknik mendayung cepat dan bagaimana mengendalikan perahu karet agar dapat berbelak-belok menuruti keinginan kami dan melawan arus. Juga mengetahui bahwa air-air yang mengalir keluar dari sela-sela tebing adalah halal. Sungguh perjalanan yang akan menjadi perjalanan paling menakjubkan di tahun ini. Tahun 2018.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kesayangan Baba & Umma

Hai Alvaro Kaisar Idris, disini umma akan ceritakan perjuangan umma saat masa hamil dan melahirkanmu ya nak. Agar kamu tau dan mampu menghargai setiap perempuan. Part 1 Masa Kehamilan  Dimulai dari rasa bahagia yang bercampur aduk dengan gelisah, takut dan tidak siap. Umma melihat garis dua di alat tes kehamilan yang baru saja umma beli. Awalnya ragu dengan hasil yang terlihat, karna samar samar. Umma coba sekali lagi dan hasilnya sama. Dengan perasaan terharu yang bercampur gelisah, umma menyampaikan pada baba bahwa umma hamil. Saat itu sejujurnya umma belum siap, karna banyak hal. Tapi tentu banyak tangan yang berdoa untuk kehadiranmu sayang. Bukan, bukan umma tidak mengharapkanmu. Umma takut ini bukan waktu yang tepat. Umma takut tidak amanah, sebab umma belum banyak belajar. Seharusnya umma belajar dan siapkan mental dulu kan nak. Supaya kamu tumbuh lebih beruntung dari baba dan umma. Sejak kami tau kehadiranmu. Umma memutuskan untuk mengurangi aktivitas umma, tentunya juga pad...

Hadiah Terindah Menjelang Anniversary 1 Tahun Pernikahan Baba & Umma

  Anakku sayang, ini part 2 ya. Kamu harus baca part 1 dulu cerita umma. Kamu adalah hadiah terindah dari Allah SWT yang hadir dalam hidup baba dan umma menjelang anniversary 1 tahun pernikahan baba dan umma di tanggal 9 Juni 2024 lalu. Umma sangat bersyukur atas kehadiranmu. Umma senang sekali kamu telah lahir, umma jadi punya teman di rumah. Soalnya baba sibuk sekali, banyak sekali pekerjaannya, umma jadi sering sendirian di rumah. Part 2 Saat Melahirkan  Dalam menghadapi kelahiranmu, umma tidak hanya berbekal do'a. Umma dan Baba ikut kelas Online "Melahirkan dengan Nyaman". Umma juga membaca buku kehamilan yang isinya tentang masalah-masalah yang dihadapi para ibu saat masa hamil hingga melahirkan. Diantaranya ada kisah ibu yang hampir meninggal, juga ada kisah sang buah hati yang tidak dapat diselamatkan. Kisah-kisah pilu itu diantaranya akibat kurangnya ilmu. Maka untuk Alvaro, banyaklah belajar dari beragam sumber, semakin banyak ilmu tentu semakin jauh dari kebodoh...

Sajadah Basah

Panas terik matahari membakar kulitku yang memang sudah kering dan kusam. Aku melangkah sempoyongan tak tentu arah. Menyesali semua jalan yang pernah ku pilih. Aku merasa lelah padahal belum berjuang. Beginikah pilunya jadi pengangguran bergelar sarjana? Setiap hari sesak dadanya, setiap hari dirudung pikiran sendiri yang berkecamuk tak berkesudahan. Merasa kendali hidup dipegang semata. Lupa atas kuasa Tuhan dan do'a orang tua. Meratapi yang sebenarnya tidak ada. Pikiran masa depan, penyeselan masa lalu, ketakutan masa sekarang yang tak berkesudahan menghujat kepercayaan diri dan mental. Semakin hari semakin tak kuasa menahan gejolak nurani sendirian. Airmata berjatuhan namun tak satupun yang mampu mengusap. Kadang, merasa bahagia sesederhana minum kopi susu dingin. Setelah kopi habis ditenggak, perasaan kembali mengamuk sampai larut malam dan tertidur. Besoknya badan sakit-sakitan, bukan karena kelelahan. Tapi, karna semangat yang telah padam. Tidak ada awal dan akhir hari. Semua...