Langsung ke konten utama

Di Balik Sebuah Resi, Ada Harapan yang Hampir Mati

Gambar : Paket JNE yang tetap aman walau diguyur hujan (Kamis, 22 Mei 2025)

Ilustrasi by Anggi Putri Rizkya 

Di balik setiap paket yang sampai tepat waktu, ada tangan-tangan yang bekerja tanpa kenal lelah. Bagi JNE, pengiriman bukan sekadar memindahkan barang dari titik A ke titik B. Ini soal kepercayaan, harapan, bahkan doa yang dibungkus dalam setiap kiriman.

19 April 2025, pukul 18.00 WIB – Gudang Awal, Jakarta

Sore itu matahari pelan-pelan mulai redup. Cuaca terasa makin sejuk dan gelap. Namun semangat petugas sortir tidak luntur mengikuti arah matahari.

Mereka memindai, mencocokkan, dan mengelompokkan ribuan paket, kemudian dengan rapih menyusunnya ke dalam truk pengangkut paket. Diantara beragam paket itu, Ada kiriman dari seorang ibu yang mengirim baju untuk anaknya di perantauan, ada juga pesanan online shop yang harus tiba sebelum deadline flash sale, bahkan dokumen penting yang harus dijaga dari kerusakan yang berarti.

Supir truk memeriksa kendaraannya, memastikan semua dalam kondisi baik dan siap meluncur, melesat jauh menuju kota-kota tujuan. Langit sudah gelap saat truk JNE mulai bergerak. Diiringi doa, truk JNE mulai menembus kota satu persatu.

“Setiap paket punya cerita. Tugas kami bukan cuma ngantar barang, tapi menjaga harapan orang,” ujar Ardi, sopir truk JNE .

22 April 2025, 10.00 WIB – Lokasi Transit Kota Medan, Sumatera Utara 

Setibanya di kota tujuan, paket segera didistribusikan ke kurir. Di sinilah semangat Melayani Tanpa Batas terlihat paling nyata. Hujan deras, panas terik, bahkan kemacetan tidak menghentikan para kurir JNE. Mereka tahu, satu keterlambatan bisa berdampak besar bagi pengirim dan penerima.

“Kadang saya harus naik turun gang sempit atau kadang terpaksa melewati jalan berlumpur karna aspal digenangi air. Tapi kalau lihat senyum penerima saat paket sampai, lelah itu hilang, saat itu pula aku merasa menang. Menang melawan rasa takut dan cemas.” cerita Farhan, kurir JNE yang sudah 5 tahun mengabdi.

15.30 WIB – Titik Akhir, Rumah Penerima

Sore itu muncul notifikasi di selulerku. "Pesanan dalam proses pengantaran". Bukan sembarang notifikasi, senyum sumringah indah menghiasi wajahku dengan tiba-tiba. Hatiku mulai berdegup kencang karna tak sabar atas hadiah kejutan dari sahabatku di Jakarta. Hadiah itu adalah hadiah ulang tahunku. Gembira yang tak terungkapkan menyelimuti hati kecilku. 

Aku menunggu di depan pintu rumah dengan berharap ada panggilan masuk dari petugas kurir. Namun, sore itu pelan-pelan hujan mulai rintik. Harapanku mulai redup. Semangatku padam saat hujan turun membahasi aspal jalanan.

Seketika senyumku mulai hilang. "Mungkinkah kurir JNE mau kirim paketku hujan-hujan? Sedangkan belum ada panggilan masuk." Ujarku dalam hati.

Hujan turun dengan deras, hatiku makin pasrah. Rasanya hatiku sudah jatuh, pecah berkeping-keping. Harapanku sudah luntur dan aku berbalik badan, bersiap masuk rumah dengan kecewa yang teramat. Sungguh aku penasaran dengan hadiah dari sahabatku. Aku sudah menanti-nanti sejak paket dikirim dari Jakarta.

"Sabar ya, JNE biasanya tepat waktu kok. Jangan putus asa, mungkin kurirnya punya kendala dijalan. Berdoa saja ya supaya paketnya sampai hari ini." Kata suamiku menyemangati.

"Tin-tin," suara klakson motor dari arah luar rumah.

“Paket untuk kak Anggi!” jerit kurir JNE.

“Iya, alhamdulillah sudah sampai paketkuu, yeey!" Jawabku kegirangan, buru-buru aku kenakan jilbabku.

Dengan senyum sumringah, ku terima paket yang sudah ku nanti 3 hari. Sungguh hebat pikirku, sang kurir bak pahlawan yang menenggelamkan kekecewaanku. Aku tak menyangka kurir JNE rela menerobos hujan lebat demi mengantarkan paketku.

"Kak, tadi ku coba telepon nomornya. Tapi tidak tersambung, barangkali signal hapenya hilang dibawa hujan, hehehe." Canda sang kurir sembari mengambil foto paketku.

"Hehehe, bisa saja pak. Tapi, makasih banyak ya pak sudah mau hujan-hujanan antar paketku. Ini hadiah ulang tahun, jadi aku sangat menantikan paket ini pak. Hampir aku nangis tadi hahaha," balasku dengan tawa yang bercampur haru.

Sang kurir pun dengan segera meninggalkan rumahku setelah kami tertawa bersama. Aku tak selesai-selesainya mengucap syukur. Sungguh aku terharu dengan kerja keras, dedikasi, dan hati yang terlibat dalam pengiriman paket ini.

Melayani Tanpa Batas bukan slogan.

Bagi JNE, itu adalah janji yang diwujudkan setiap hari dalam kecepatan, ketepatan, dan ketulusan. Dari pengirim ke penerima, dari hati ke hati. Setiap manusia pasti memiliki harapan, namun JNE tak kan membiarkan harapan ini sirna, karena ia selalu ada, setiap pelanggan membutuhkanya.

#JNE #ConnectingHappiness #JNE34SatSet #JNE34Tahun #JNEContentCompetition2025 #JNEInspirasiTanpaBatas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Untuk Kesayangan Baba & Umma

Hai Alvaro Kaisar Idris, disini umma akan ceritakan perjuangan umma saat masa hamil dan melahirkanmu ya nak. Agar kamu tau dan mampu menghargai setiap perempuan. Part 1 Masa Kehamilan  Dimulai dari rasa bahagia yang bercampur aduk dengan gelisah, takut dan tidak siap. Umma melihat garis dua di alat tes kehamilan yang baru saja umma beli. Awalnya ragu dengan hasil yang terlihat, karna samar samar. Umma coba sekali lagi dan hasilnya sama. Dengan perasaan terharu yang bercampur gelisah, umma menyampaikan pada baba bahwa umma hamil. Saat itu sejujurnya umma belum siap, karna banyak hal. Tapi tentu banyak tangan yang berdoa untuk kehadiranmu sayang. Bukan, bukan umma tidak mengharapkanmu. Umma takut ini bukan waktu yang tepat. Umma takut tidak amanah, sebab umma belum banyak belajar. Seharusnya umma belajar dan siapkan mental dulu kan nak. Supaya kamu tumbuh lebih beruntung dari baba dan umma. Sejak kami tau kehadiranmu. Umma memutuskan untuk mengurangi aktivitas umma, tentunya juga pad...

Hadiah Terindah Menjelang Anniversary 1 Tahun Pernikahan Baba & Umma

  Anakku sayang, ini part 2 ya. Kamu harus baca part 1 dulu cerita umma. Kamu adalah hadiah terindah dari Allah SWT yang hadir dalam hidup baba dan umma menjelang anniversary 1 tahun pernikahan baba dan umma di tanggal 9 Juni 2024 lalu. Umma sangat bersyukur atas kehadiranmu. Umma senang sekali kamu telah lahir, umma jadi punya teman di rumah. Soalnya baba sibuk sekali, banyak sekali pekerjaannya, umma jadi sering sendirian di rumah. Part 2 Saat Melahirkan  Dalam menghadapi kelahiranmu, umma tidak hanya berbekal do'a. Umma dan Baba ikut kelas Online "Melahirkan dengan Nyaman". Umma juga membaca buku kehamilan yang isinya tentang masalah-masalah yang dihadapi para ibu saat masa hamil hingga melahirkan. Diantaranya ada kisah ibu yang hampir meninggal, juga ada kisah sang buah hati yang tidak dapat diselamatkan. Kisah-kisah pilu itu diantaranya akibat kurangnya ilmu. Maka untuk Alvaro, banyaklah belajar dari beragam sumber, semakin banyak ilmu tentu semakin jauh dari kebodoh...

Sajadah Basah

Panas terik matahari membakar kulitku yang memang sudah kering dan kusam. Aku melangkah sempoyongan tak tentu arah. Menyesali semua jalan yang pernah ku pilih. Aku merasa lelah padahal belum berjuang. Beginikah pilunya jadi pengangguran bergelar sarjana? Setiap hari sesak dadanya, setiap hari dirudung pikiran sendiri yang berkecamuk tak berkesudahan. Merasa kendali hidup dipegang semata. Lupa atas kuasa Tuhan dan do'a orang tua. Meratapi yang sebenarnya tidak ada. Pikiran masa depan, penyeselan masa lalu, ketakutan masa sekarang yang tak berkesudahan menghujat kepercayaan diri dan mental. Semakin hari semakin tak kuasa menahan gejolak nurani sendirian. Airmata berjatuhan namun tak satupun yang mampu mengusap. Kadang, merasa bahagia sesederhana minum kopi susu dingin. Setelah kopi habis ditenggak, perasaan kembali mengamuk sampai larut malam dan tertidur. Besoknya badan sakit-sakitan, bukan karena kelelahan. Tapi, karna semangat yang telah padam. Tidak ada awal dan akhir hari. Semua...